Merenungi Samudera Makna Surah Al-Ashr

  1. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِDengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  2. وَالْعَصْرِ : Demi masa.
  3. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ : Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
  4. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ : kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.


Adalah Imam Asy-Syafi’I rahimahullah pernah berkata bahwa jikalau semua manusia senantiasa merenungkan samudera makna yang terkandung dalam surah al-ashr ini, maka cukuplah baginya.

Pernyataan Imam Syafi’I rahimahullah ini mengandung arti betapa pentingnya hakikat yang terkandung dalam surah ini, tentunya tanpa mengabaikan pentingnya surah-surah lain di dalam Al-Qur’anul Karim. Apatah lagi, pernah disusun buku tebal yang hanya membahas sebuah surah pendek ini secara tersendiri, sebagaimana juga surah-surah yang lain seperti surah Al-Fatihah, samudera Al-Fatihah.
 
Dalam surah pendek yang hanya terdiri atas 3 ayat ini, tercermin pedoman yang lengkap bagi kehidupan manusia sebagaimana yang dikehendaki Islam. Tampaklah rambu-rambu paradigma keimanan dengan hakikatnya yang agung dan lengkap (sempurna) dalam bentuk yang sangat jelas dan detil.

Surah ini meletakkan aturan Islami secara menyeluruh dalam kalimat-kalimat ringkas. Juga mengidentifikasi umat Islam dengan hakikat dan aktivitasnya dalam sebuah ayat, yaitu ayat ke-3. Hal ini merupakan paparan ringkas yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh selain Allah.

Hakikat besar yang ditetapkan surah ini secara total adalah bahwa dalam semua rentangan zaman (masa, waktu) dan perkembangan manusia sepanjang masa, hanya ada satu pedoman yang menguntungkan dan satu jalan yang menyelamatkan, yaitu pedoman yang telah dilukiskan batas-batasnya dan dijelaskan rambu-rambu jalannya dalam surah ini. Adapun yang berada di luar dan bertentangan dengannya adalah kesia-siaan dan kerugian.

Pedoman itu adalah iman, amal sholih, saling menasehati untuk menaati kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran. (Pengantar surah Al-ashr dalam Fii Dzilaalil Qur’an, Sayyid Quthb).

Ibnul Qayyim di dalam kitab Miftahu Daris-Sa’dah (kunci-kunci rumah kebahagiaan) menerangkan, Apabila empat hal sudah dimiliki & dilakukan oleh manusia (yaitu iman, amal sholih, saling menasehati untuk menaati kebenaran, dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran), maka akan menuju kepada kesempurnaan hidup.

Sebab kesempurnaan itu adalah sempurna pada diri sendiri dan menyempurnakan pula bagi orang lain. Kesholihan & kebaikan pribadi haruslah ditransfer dan dikembangkan menjadi kesholihan keluarga, kesholihan masyarakat/sosial, dan seterusnya. Karena Islam adalah rahmatan lil alamiin.

Imam Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya menulis; dalam surah ini terkandung peringatan yang keras, karena semua manusia dianggap rugi, kecuali yang berpegang dengan yang empat ini. Yaitu: iman, amal sholih, saling menasehati untuk menaati kebenaran, dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran. Hal ini menunjukkan betapa keselamatan hidup bergantung kepada keempatnya, tidak boleh ada yang terlewatkan. Bahwa mencari selamat bukanlah untuk diri sendiri saja, melainkan diperintahkan pula untuk saling menyampaikan dengan orang lain.

Mengajak kepada perintah agama, nasehat atas kebenaran, amar ma’ruf nahyi munkar, dan agar saling mencintai sesama saudara apa yang dia cintai untuk dirinya. Dua kali diulang tentang saling berpesan dan mewasiati ini, karena yang pertama adalah mengajak kepada jalan Allah dan yang kedua agar istiqamah menjalankannya. Atau, yang pertama memerintahkan dengan yang ma’ruf dan yang kedua mencegah dari yang munkar.

Iman dan amal shalih yang menjadi syarat pertama keluar dari kerugian merupakan dua hal yang saling terkait, ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Artinya tidak berguna dan akan mati iman seseorang tanpa amal shalih, begitu sebaliknya sia-sialah amal shalih yang tidak berlandaskan iman. Dari iman berasal setiap cabang kebaikan dan dengannya terkait setiap buah kebaikan. Oleh karena itu, Al-Qur’an dengan tegas menghancurkan nilai seluruh amal perbuatan, selagi amal perbuatan itu tidak didasarkan pada iman yang menjadi pendorong dan penghubung dengan Sang Maha Wujud. “Dan orang-orang yg kafir, amal perbuatan mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yg datar, yg disangka air oleh orang yg dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tdk mendapatinya suatu apapun”.(AN-Nur: 39). Secara impelementatif, Iman adalah gerak dan amal, pembangunan dan pemakmuran menuju Allah. Ia bukan sesuatu yang pasif, layu dan bersembunyi di hati nurani. Juga bukan sekedar kumpulan niat yang baik yang tidak tercermin dalam bentuk perbuatan & gerak.
Yang menarik untuk dicermati mengenai tafsir surah ini adalah pendapat Al-Wahidi dalam kitab tafsirnya Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz. Beliau mengemukakan secara spesifik contoh mereka yang telah mendapat kerugian dan keberuntungan berdasarkan urutan dalam mushaf. Abu jahal merupakan representasi dari orang yang merugi. Abu Bakar merupakan sosok yang sesuai dengan implementasi iman. Umar bin Khattab mewakili orang-orang yang beramal shalih. Utsman bin Affan merupakan contoh nyata dari mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan Ali bin Abi Thalib identik dengan golongan yang saling menasehati dalam kesabaran. Lebih lanjut As-Syanqithi dalam tafsir ‘Adhwa’ul Bayan mengemukakan Mafhum mukhalafah dari setiap ajaran dalam surah ini; mafhum mukhalafah dari keberuntungan adalah kerugian, yaitu tdk beriman (kafir), tidak beramal atau beramal buruk, tidak berpesan dengan kebenaran atau berpesan tetapi dengan kebatilan serta tidak berpesan dengan kesabaran atau senantiasa berkeluh kesah.

Sungguh setiap kita mendambakan kesuksesan, keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Tidak ada jalan dan manhaj lain melainkan mengamalkan kandungan surah ini secara totalitas seperti yang pernah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah saw. Disebutkan bahwa tidaklah dua orang sahabat Rasulullah bertemu, melainkan salah seorang dari keduanya akan membacakan surah ini sebelum berpisah, kemudian saling mengucapkan salam dan saling berjanji serta berkomitmen untuk tetap berpegang teguh dengan iman dan beramal shalih, saling berjanji untuk senantiasa berpesan dengan kebenaran dan dengan kesabaran dalam menjalani kehidupan mereka.

Share/Bookmark

capcusss

Download