Asal dan Sejarah Hajar Aswad

Sebuah batu bundar yang berwarna hitam dan berlubang, terletak di sudut timur Kaabah atau sebelah kiri Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Kaabah), tingginya sekitar 150 sentimeter, di atas tanah.

Batu ini mempunyai lingkaran sekitar 30 sentimeter dan garis tengah 10 sentimeter, lebih besar daripada lingkaran muka seseorang. Kerana itu, seseorang yang ingin mencium batu ini harus memasukkan mukanya ke dalam lubang itu. Kepala yang besar pun dapat dimasukkan ke dalam lubang batu hitam ini. Bahagian luar batu hitam ini diikat dengan pita perak yang berkilat.


Nabi Ibrahim AS juga mencium batu itu beberapa kali.


Hajar Aswad. Batu berwarna hitam ini menjadi idam-idaman setiap umat Islam untuk bisamenyentuh, bahkan menciumnya. Pada setiap musim haji dan umrah, ribuan bahkan jutaan umat Islam yang melakukan tawaf rela berdesak-desakan agar bisa mendekati batu tersebut.


Hajar Aswad terletak di se-buah.lubang di sudut tenggara Kabah dan menjadi patokan hitungan thawaf. Lubang tempat Hajar Aswad tersebut dilingkari besi putih yang direkat dengan timah. Ketinggian lubang sekitar 1,10 meter dari permukaan lantai Masjidil Haram.

Saat ini, Hajar Aswad terdiri atas delapan bongkahan batu yang direkatkan menjadi satu dengan ikatan berupa lingkaran perak. Awalnya, batu tersebut masih menjadi satu kesatuan. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, Hajar Aswad telah mengalami berbagai peristiwa yang menyebabkan batu itu tak lagi utuh. Pecah menjadi delapan bongkahan setelah dihantam musuh Islam.


Mengenai asal usul batu tersebut, hadis riwayat Abdullah bin Amni menyebutkan, Rasulullah bersabda, “Malaikat Jibril telah membawa Hajar Aswad dari surga, lalu meletakkannya di tempat yang kamu lihat sekarang ini. Kamu tetap akan berada dalam kebaikan selama Hajar Aswad itu ada. Nikmatilah batu itu selama kamu masih mampu menikmatinya. Karena, akan tiba saat di mana Jibril datang kembali untuk membawa batu tersebut ke tempat semula.”

Sejarah panjang batu itu tak bisa dilepaskan dari zaman Nabi Ibrahim AS membangun kembali Kabah. Bersama putranya, Ismail AS, dia menata kembali batu-batu untuk mendirikan Kabah di lokasi


yang sama oleh Nabi Adam AS.


Namun, saat hampir selesai membangun Kabah, Ibrahim AS merasa ada yang kurang. Dia kemudian memerintahkan putranya, Ismail, untuk mencari batu yang akan diletakkan di sudut tenggara Kabah. Ismail pun mematuhi perintah ayahnya. Ia pergi dari satu bukit ke bukit lain untuk mencari batu yang paling baik.


Ketika sedang mencari, malaikat Jibril datang menemui Ismail dan memberinya sebuah batu yang cantik. Dengan senang hati, beliau menerima batu itu dan segera memberikannya kepada Ibrahim. Kemudian, Ibrahim pun sangat gembira mendapat batu itu sehingga beliau menciumnya beberapa kali.


Namun dalam riwayat lain ada yang menyebutkan, Ibrahim sendiri yang mendapatkan batu itu.


Setelah meletakkan Hajar


Aswad di sudut tenggara Kabah, Ibrahim AS bersama Ismail AS mengelilingi Kabah hingga tujuh kali. Peristiwa inilah yang menjadi acuan umat Islam saat me-laksanaka haji dan umrah, yakni thawaf mengelilingi Kabah sebanyak tujuh putaran dan mencium Hajar Aswad.


Sejak diletakkan di sudut tenggara Kabah oleh Nabi Ibrahim AS, Hajar Aswad mengalami berbagai peristiwa. Misalnya, ketika Makkah dikuasai suku Qaramitah di bawah pimpinan Abu Tahir Al Qarmuthi yang melakukan pembantaian terhadap 1.700 orang di Masjidil Haram tahun 317 H. Pengikut Abu Thahir mencuri perhiasan Kabah, merobek-robek kiswah penutupnya, mengambil talang emas yang ada di atap Kabah dan Hajar Aswad dari tempatnya. Batu itu baru dikembalikan pada tahun 339 H.


Pada tahun 413 H, Bani Fati-miyah dari Mesir mengirim pasukan ke Makkah di bawah pimpinan Hakim Al Abid;. Seorang laki-laki berbadan tinggi besar yang ikut dalam pasukan tersebut, saat berada di depan Hajar Aswad, memukul batu itu hingga pecah dan berjatuhan.

Kemudian, pada tahun 990 H, datang seorang laki-laki asing yang bukan orang Arab. Dia membawa sejenis kapak. Dengan kapak itu, ia memukul Hajar Aswad. Namun, Pangeran Nashir menikam-nya dengan belati hingga mati.


Setelah mengalami kejadian itu. Raja Abdul Aziz bin Abdur Rahman Al Faisal As Saud merekatkan kembali pecahan Hajar Aswad. Setelah itu, Hajar Aswad diikat dengan logam perak.


Pada masa Rasulullah SAW, serangkaian peristiwa penting berkenaan dengan Hajar Aswad juga pernah terjadi. Perselisihan antara kabilah suku Quraisy menyangkut pemindahan dan pengembalian Hajar Aswad ke tempatnya semula, diselesaikan Rasulullah dengan menjadikan sorbannya sebagai tempat untuk mengangkat Hajar Aswad. Sorban itu kemudian dipegang masing-masing kabilah yang berselisih, sehingga perselisihan dapat diselesaikan tanpa pertumpahan darah.


Meski Hajar Aswad memiliki posisi penting dalam prosesi haji atau umrah, batu tersebut hanyalah batu yang tidak memberi manfaat dan mudarat. Begitu juga dengan Kabah. Bangunan itu hanya bangunan berbentuk kubus dan terbuat dari batu.


Sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab, di hadapan Hajar Aswad mengatakan, “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu. Kalau bukan karena aku melihat kekasih-ku, Nabi SAW, menciummu dan menyentuhmu, aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu.”


Dengan demikian, harus dipahami bahwa usapan, ciuman, atau lambaian tangan terhadap Hajar Aswad bukanlah berarti menyembah batu. Tidak juga menyembah Kabah. Allah yang memerintahkan umat Islam untuk tawaf mengelilingi Kabah dan Allah pula yang memerintahkan mencium Hajar Aswad.

Menurut banyak riwayat, antara lain daripada Abdullah bin Umar bin Khattab, Hajar Aswad berasal dari syurga. Riwayat oleh Sa’id bin Jubair r.a daripada Ibnu Abbas daripada Ubay bin Ka’b r.a, menerangkan bahawa Hajar Aswad dibawa turun oleh malaikat dari langit ke dunia. Abdullah bin Abbas juga meriwayatkan bahawa Hajar Aswad ialah batu yang berasal dari syurga, tidak ada sesuatu selain batu itu yang diturunkan dari syurga ke dunia ini.

Riwayat-riwayat di atas disebutkan oleh Abu al-Walid Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Azraki (M.224 H/837 M), seorang ahli sejarah dan penulis pertama sejarah Mekah.Tidak ditemukan informasi yang jelas tentang siapa yang meletakkan Hajar Aswad itu pertama kali di tempatnya di Kaabah; apakah malaikat ataukah Nabi Adam a.s.


Pada mulanya Hajar Aswad tidak berwarna hitam, melainkan berwarna putih bagaikan susu dan berkilat memancarkan sinar yang cemerlang.Abdullah bin Amr bin As r.a (7 SH-65 H) menerangkan bahawa perubahan warna Hajar Aswad daripada putih menjadi hitam disebabkan sentuhan orang-orang musyrik. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Zubair bin Qais (M. 76 H/65 M).


Dikatakannya bahawa sesungguhnya Hajar Aswad adalah salah satu batu dunia yang berasal dari syurga yang dahulunya berwarna putih berkilauan, lalu berubah menjadi hitam kerana perbuatan keji dan kotor yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.

Namun, kelak batu ini akan berwarna putih kembali seperti sedia kala. Menurut riwayat Ibnu Abbas dan Abdullah bin Amr bin As, dahulu Hajar Aswad tidak hanya berwarna putih tetapi juga memancarkan sinar yang berkilauan. Sekiranya Allah s.w.t tidak memadamkan kilauannya, tidak seorang manusia pun yang sanggup mamandangnya.


Pada tahun 606 M, ketika Nabi Muhammad s.a.w berusia 35 tahun, Kaabah mengalami kebakaran besar sehingga perlu dibina kembali oleh Nabi Muhammad s.a.w dan kabilah-kabilah terdapat di Mekah ketika itu. Ketika pembangunan semula itu selesai, dan Hajar Aswad hendak diletakkan kembali ke tempatnya, terjadilah perselisihan di antara kabilah-kabilah itu tentang siapa yang paling berhak untuk meletakkan batu itu di tempatnya.

Melihat keadaan ini, Abu Umayyah bin Mugirah dari suku Makzum, sebagai orang yang tertua, mengajukan usul bahawa yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di tempatnya adalah orang yang pertama sekali memasuki pintu Safa keesokan harinya.


Ternyata orang itu adalah Muhammad yang ketika itu belum menjadi rasul. Dengan demikian, dialah yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad itu di tempatnya. Akan tetapi dengan keadilan dan kebijaksanaannya, Muhammad tidak langsung mengangkat Hajar Aswad itu. Baginda melepaskan serbannya dan menghamparkannya di tengah-tengah anggota kabilah yang ada.

Hajar Aswad lalu diletakkannya di tengah-tengah serban itu. Baginda kemudian meminta para ketua kabilah untuk memegang seluruh tepi serban dan secara bersama-sama mengangkat serban sampai ke tempat yang dekat dengan tempat diletakkannya Hajar Aswad. Muhammad sendiri memegang batu itu lalu meletakkannya di tempatnya. Tindakan Muhammad ini mendapat penilaian dan penghormatan yang besar dari kalangan ketua kabilah yang berselisih faham ketika itu.


Awalnya, Hajar Aswad tidak dihiasi dengan lingkaran pita perak di sekelilingnya. Lingkaran itu dibuat pada masa-masa berikutnya. Menurut Abu al-Walid Ahmad bin Muhammad al-Azraki (M. 203 H), seorang ahli sejarah kelahiran Mekah, Abdullah bin Zubair adalah orang pertama yang memasang lingkaran pita perak di sekeliling Hajar Aswad, setelah terjadi kebakaran pada Kaabah.

Pemasangan pita perak itu dilakukan agar Hajar Aswad tetap utuh dan tidak mudah pecah. Pemasangan pita perak berikutnya dilakukan pada 189 H, ketika Sultan Harun ar-Rasyid, Khalifah Uthmaniah (memerintah tahun 786-809 M), melakukan umrah di Masjidil Haram. Ia memerintahkan Ibnu at-Tahnan, seorang pengukir perak terkenal ketika itu, untuk menyempurnakan lingkaran pita perak di sekeliling Hajar Aswad dan membuatnya lebih berkilat dan berkilau.


Usaha berikutnya dilakukan oleh Sultan Abdul Majid, Khalifah Uthmaniah (1225-1277 H/1839-1861 M). Pada tahun 1268 H, baginda menghadiahkan sebuah lingkaran emas untuk dililitkan pada Hajar Aswad, sebagai pengganti lingkaran pita perak yang telah hilang. Lingkaran emas itu kemudian diganti semula dengan lingkaran perak oleh Sultan Abdul Aziz, Khalifah Uthmaniah (1861-1876 M).

Pada 1331 H, atas perintah Sultan Muhammad Rasyad (Muhammad V, memerintah pada tahun 1909-1918), lingkaran pita perak itu diganti dengan lingkaran pita perak yang baru. Untuk menjaga dan mengekalkan keutuhannya, Hajar Aswad sering dililit dan dilingkari dengan lingkaran pita perak.





Share/Bookmark

capcusss

Download